Senin, 17 Juni 2013

Sistem Pendidikan Harus di Revolusi

SETIABUDHI (GM) - Permasalahan pendidikan di Indonesia merupakan persoalan yang kompleks. Pendidikan bukan hanya terkait dengan guru, peserta didik, tetapi juga fasilitas infrastruktur dan sistem yang dijalankannya. 

Dari sejumlah permasalahan yang ada saat ini, guru tetap menjadi ujung tombak pendidikan. Oleh karenanya, perbaikan kualitas guru tetap menjadi terpenting dalam pendidikan.

Menurut Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Furqon, Ph.D., pendidikan dan manajemen guru memang harus diperbaiki. Sehingga guru bisa dijamin bekerja dengan nyaman dan optimal. Mampu mengabdikan kemampuannya untuk membimbing dan membantu peserta didik.


"Kurikulum hanyalah salah satu faktor yang berpengaruh. Tetapi kurikulum tergantung pada kualitas guru. Karena guru yang akan menjalankan kurikulum di dalam kelas. Sebagus apa pun kurikulum, tetapi bila tidak diterapkan oleh guru di kelas, maka tidak akan ada gunanya," terang Furqon kepada "GM", Rabu (1/5).

Diungkapkan Furqon, apapun perbaikan yang dilakukan seharusnya bertujuan untuk meningkatkan mutu peserta didik. Karena peserta didik merupakan raja yang disiapkan untuk menjadi calon pemimpin bangsa.

Sayangnya, saat ini masih banyak persoalan terkait dengan guru. Mulai dari jumlah guru yang timpang, penguasaan materi yang lemah, masih banyak guru yang mengajar mata pelajaran dengan latar pendidikan berbeda.

"Memang permasalahannya cukup rumit untuk bisa menciptakan guru yang ideal. Jika mencontoh Korea Selatan, hanya lulusan terbaik di SMA yang boleh mengikuti pendidikan calon guru. Guru menjadi profesi yang prestisius. Gaji dan tunjangannya besar. Jadi hanya orang yang hebat dan pintar yang bisa menjadi guru. Idealnya seperti itu," tutur Furqon.

Terkait dengan persoalan Ujian Nasional, Furqon menegaskan, evaluasi tetap harus dilaksanakan. Tetapi yang menjadi persoalan, metode, cara, dan manajemennya yang harus lebih baik dari saat ini.

"Bagaimana caranya kita harus duduk bersama dan mencari jalan keluarnya," kata Furqon. 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Iwan Hermawan menegaskan, hal yang perlu dilakukan saat ini yaitu revolusi sistem pendidikan Indonesia. Pasalnya, beberapa kali Indonesia telah mengganti sistem pendidikan tetapi tetap belum mampu meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) dan moral bangsa. 

"Pendidikan saat ini ternyata belum memberikan kontribusi kepada peningkatan SDM dan moralitas bangsa. Maka pemeritah harus merevolusi sistem pendidikan kita," tegas Iwan.

Tanpa ada perbaikan, lanjut Iwan, maka kualitas SDM dan moralitas bangsa akan semakin terpuruk dan semakin sulit untuk bersaing dengan negara lain.

"Saat ini IPM Indonesia berada di peringkat 124 dunia. Indonesia masih kalah jauh dengan negara Asia Tenggara lainnya. Ini yang harus dipikirkan oleh pemerintah," katanya. 

Dievaluasi

Di tempat terpisah, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menilai pendidikan di Indonesia termasuk Jawa Barat harus segera dievaluasi. Pasalnya semakin tinggi pendidikan seseorang, justru semakin tinggi sikap individualis seseorang.

"Ini yang jadi kekhawatiran saya dan semua orang, semakin tinggi pendidikan seseorang justru semakin tinggi rasa individualis seseorang," ujar gubernur pada wartawan usai membuka acara Bulan Bhakti Gotong Royong X dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-41, di Lapangan Upakarti, Soreang, Rabu (1/5).

Oleh karena itu, kata gubernur, pendidikan di Jawa Barat termasuk di Indonesia, harus segera dievaluasi secara menyeluruh. Sejatinya, kata gubernur, semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula rasa empatinya kepada orang lain.

"Ini malah sebaliknya. Ada apa dengan pendidikan di kita? Kita harus secepatnya mengevaluasi pendidikan kita," tandasnya.

Menurutnya, seharusnya pendidikan di Indonesia bisa membangun empati, bukan membangun jiwa individualis. Karena itu, lanjutnya, sikap gotong royong yang ada di masyarakat harus menjadi spirit kehidupan masyarakat kita.

"Harus jadi spirit, karena kehidupan seseorang tidak mungkin individualis. Mereka sangat membutuhkan keberadaan orang lain," katanya.

Menurut gubenur, gotong royong merupakan jati diri dan local genius yang mendasar masyarakat kita. Bahkan dalam agama yang disebut ta'awun atau bahasa Kebupaten Bandung sabilulungan sudah berkembang di masyarakat kita sudah lama.

"Namun saat ini, masyarakat kita malah sangat individualis. Karena itu, gotong royong harus menjadi spirit masyarakat kita saat ini dan selamanya. Dan upaya itu harus dilakukan dengan mengevaluasi pendidikan di Jabar dan Indonesia," terangnya.